Wednesday, October 27, 2010

mengenai proses persalinan

saya baru saja melahirkan anak pertama. Alhamdulillah, segalanya dimudahkan oleh Allah swt. Banyak yang bilang, persalinan pada anak pertama akan sulit dan lama. Ibu akan merasakan kontraksi yang semakin sering namun dalam kurun waktu yang sedikit demi sedikit. Bagi sebagaian orang menyiksa, bahkan membuat trauma. Banyak yang bilang, saya akan merasakan pembukaan demi pembukaan semalaman, dan si bayi baru akan lahir keesokan paginya. Banyak yang bilang, bila pembukaan lambat dan tidak lancar, akan dilakukan tindakan induksi yang menyakitkan, dan kabar buruknya, induksi akrab dengan persalinan anak pertama. 
Menjelang masa-masa perkiraan lahir, saya mengikuti senam hamil, dan karena terbentur dengan waktu kerja, akhirnya saya juga mempraktekkan gerakan-gerakan tersebut di rumah. Kata orang, banyak jalan kaki dan naik turun tangga dapat memudahkan persalinan. Semua yang sekiranya bermanfaat, saya lakukan. 
Berita baiknya, saya merasakan kontraksi tiap 5 menit sekali pada sore hari, Rabu, 6 Oktober 2010. Ketika itu saya masih di kantor dan hujan deras di luar. Enggan untuk pulang ke rumah, saya sempat merencanakan farewell sebelum saya cuti melahirkan. Namun rasa sakit yang mulai mengkhawatirkan memaksa saya untuk menerjang hujan dan pulang dengan taksi. Saya masih ingat instruksi awal saya kepada pengemudi taksi: 'ke Jatibening'. Namun ditengah jalan, akhirnya saya menyerah dan mengubah instruksi saya: 'langsung ke Hermina Bekasi aja deh'. Keputusan saya tidak salah. Ketika diperiksa, ternyata saya sudah pembukaan kedua. Saya kaget, karena hari itu masih 2 minggu sebelum perkiraan kelahiran. Saya merasa belum siap. Secara mental. Selama ini kesibukan saya cukup membuat saya sanggup melakukan denial terhadap rasa takut dan gugup menjelang persalinan. Jadi kalau memang benar harus saat itu si bayi lahir, saya tidak siap!
Suster dan bidan yang menangani masih santai-santai, dokter kandungannya pun masih dalam perjalanan menuju RS. Mereka bilang, mungkin lahirnya besok pagi. Oke lah. Namun satu jam setelah itu, kontraksinya terasa tidak ada jeda dan semakin sakit. Satu jam setelah itu, bidan memeriksa bukaan saya dan terlihat terkejut. "Ibu, kita bersalin sekarang ya, bukaannya udah gede. Bayinya sudah mau lahir..."
Mati deh gue...
Tak lama kemudian suster-suster sibuk menyiapkan peralatan persalinan. Saya semakin gugup. Beberapa saat kemudian si dokter datang. Kemudian proses persalinan benar-benar terjadi. Sakit? Ya, pasti. Hanya saja, saya bersyukur telah mengikuti senam hamil. Relaksasi, teknik pernapasan, dan cara mengejan yang diajarkan benar-benar bermanfaat untuk saya. Tiga kali mengejan, sang bayi keluar. Alhamdulillah. 
Melahirkan normal tidak sesulit dan sesakit yang saya kira. Tidak semengerikan hingga sebelum proses persalinan saya sedemikian tidak percaya dirinya dan berkata pada suami saya, "sesar aja deh, sesar!"
Juga sangat terbantu oleh si bayi yang sangat pintar dan koperatif, karena ia sangat aktif sekali mendorong kepalanya keluar. Hebat kamu, nak!
Proses penyembuhannya juga relatif cepat. Hari kelima rasa nyeri jahitannya sudah hilang. Meskipun, memang sih, hari pertama dan kedua setelah melahirkan, segalanya terasa sulit. Kita harus menanggung rasa sakit pada jahitannya, dan harus menyimpan kekuatan untuk menyusui bayi juga. Tapi, kalau dibandingkan dengan proses sesar, pasti akan lebih sulit dan lebih lama penyembuhan bekas operasinya, dan di waktu yang sama, ada seseorang yang butuh ASI dan kasih sayang kita.
Alhamdulillah.
Happy childbirth, guys!

2 comments:

  1. lika, bukannya konon katanya kalo mata minus ga boleh melahirkan normal ya? *kata bapak2 di kantor gue* :P

    ReplyDelete
  2. iyah, kalo diatas minus 10 kalo g salah.. hehe

    ReplyDelete